Pages

Jumat, 06 November 2015

MENGENAL KEKAYAAN HUTAN KAMPUNG PAGAY, DISTRIK AIRU KABUPATEN JAYAPURA

Kampung Pagay, Distrik Airu merupakan salah satu kampung yang terletak di Wilayah Pembangunan IV pada wilayah administrasi kabupaten Jayapura Provinsi Papua. 

Airu, dikenal masyarakat Jayapura sebagai distrik terjauh, karena dari segi aksesibilitas atau jangkauan transportasi untuk mencapai daerah ini, hanya dapat dijangkau dengan transportasi udara (pesawat kecil berkapasitas max 9 penumpang) dengan waktu tempuh   ± 45 menit dari Bandara Sentani dengan tarif penerbangan reguler sekitar Rp. 650.000 – Rp. 800.000,- / penumpang. Hal ini tentunya membuat informasi tentang distrik Airu belum banyak diketahui masyarakat umum di kabupaten Jayapura, bahkan ironisnya tidak banyak pegawai pemerintah di kabupaten Jayapura yang sering berkunjung ke kampung-kampung yang terletak di wilayah distrik Airu, termasuk salah satunya kampung Pagay.

Kampung Pagay terletak di tepih sungai Mamberamo bagian Hulu dan berbatasan dengan distrik Benawa, kabupaten Yalhimo di bagian Utara, kabupaten Keerom di bagian Timur, kabupaten Mamberamo Tengah dan Mamberamo Raya di bagian Barat.








Kampung Pagay, distrik Airu termasuk wilayah yang ditetapkan pemerintah kabupaten Jayapura sebagai wilayah dengan fungsi sebagai kawasan pengembangan perkebunan, kehutanan, pertanian dan peternakan skala besar. Fungsi tersebut tentunya didasari potensi wilayah tersebut yang menjanjikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kabupaten Jayapura dari beberapa sektor unggulan diatas.

Pengembangan sektor kehutanan di wilayah ini sangat menarik untuk cermati, khususnya melihat potensi hutannya. Eksploitasi sumberdaya alam hutan memang merupakan cara mudah untuk mendapatkan uang. Akibatnya, dalam waktu cukup lama, hutan, terutama kayu dari hutan alam menjadi unggulan pendapatan daerah dan sumber penghidupan masyarakat. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui potensi sumberdaya alam hutan yang kita miliki, sehingga dengan potensi tersebut dapat dipakai dalam pemanfaatan pengelolaan potensi hutan untuk kesejahteraan masyarakat dan tentunya harus dilakukan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan tetap menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Potensi Carbon Hutan
Hutan Papua sebagai aset jangka panjang, baik nasional maupun internasional. Papua dengan luas hutan 32 juta ha, dimana 85 persen merupakan hutan primer (primary forest). Luasan hutan tersebut, juga termasuk kawasan hutan di sepanjang DAS Mamberamo, salah satunya  yang tersebar pada wilayah kabupaten Jayapura.

Berbagai manfaat yang disediakan oleh hutan jauh melebihi nilai yang didapatkan dari hasil-hasil hutan. Hutan yang tersebar di wilayah DAS Mamberamo juga berperan melindungi pasokan air dengan menstabilkan tanah di lereng-lereng bukit dan mengatur laju kecepatan aliran sungai. Selain itu juga, hutan menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Seperti yang dilaporkan  FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia, dan setara dengan sekitar 20 persen biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika.

Keanekaragan hayati dan Jasa Lingkungan
Hutan Mamberamo di wilayah kampung Pagay yang hijau oleh kerimbunan pohon juga menjadi “istana” bagi beragam fauna dan flora. Jika menyimak sejenak hasil penelitian tim Conservation International Indonesia (CII) di kawasan Foja Mamberamo tahun 2005, yang berhasil menemukan 40  spesies baru dan belum teridentifikasi.

Banyak hasil hutan kayu dan non-kayu ditemukan di plot-plot pengamatan. Banyak pohon-pohon berdiameter besar dianggap bernilai tinggi, seperti jenis kayu komersial, termasuk Merbau (Intsia bijuga) dan Matoa (Pometia sp). Selain itu juga, ditemukan beberapa jenis pohon lainnya yang digunakan kayunya untuk pembuatan perahu, alat dayung, tetapi juga bagian pohon seperti buah dan daun, dimanfaatkan untuk konsumsi manusia atau satwa liar (untuk berburu), dan digunakan untuk bahan obat tradisional.  Sebuah keragaman besar reptil, herpetofauna (katak, kadal, buaya, ular), serangga, dan burung tertentu diamati dan didengar selama perjalanan lapangan. Ini termasuk burung Mambruk (Goura victoria, IUCN terdaftar 'rentan'), burung Maleo (Macrocephalon maleo, terdaftar IUCN 'langka'), dan sejumlah buaya (Crocodylus novaeguinae). Tanpa diragukan lagi, ini adalah situs keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, mengandung jumlah spesies langka, terancam dan kemungkinan tidak teridentifikasi. Hal tersebut tentunya menggambarkan bahwa, kawasan hutan mamberamo, masih menyimpan sejuta kekayaan keanekaragan hayati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar