Pages

Kamis, 12 November 2015

CAGAR ALAM CYCLOOP


Selama semalam kita berada diatas pesawat menuju Jayapura dan ketika pesawat akan mendarat di Bandara Sentani, pemandangan sangat indah dan menakjubkan akan kita lihat disepanjang perjalanan menyusuri danau Sentani yang dikelilingi puncak pegunungan.  Cagar Alam Cycloop namanya.  Gugusan pegunungan ini membujur dari Sentani tempat pesawat menurunkan penumpangnya hingga sepanjang perjalanan menunju Angkasapura tempat peristirahatan dan perumahan masyarakat Kota Jayapura.

Karena kawasan Pegunungan Cycloop mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang dilindungi dan perkembangannya secara alami serta fungsinya menjaga keseimbangan ekosistem di Kota Jayapura dan sekitarnya. Kawasan Pegunungan Cycloop ditetapkan menjadi Cagar Alam Cycloop seluas 22.500 hektar. Suatu kawasan yang cukup luas sebagai benteng keseimbangan ekosistem di Kabupaten dan Kota Jayapura serta wilayah sekitarnya. 

Kawasan Pegunungan Cycloop ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sebagai Cagar Alam bukan tanpa alasan.  Di wilayah Pegunungan Cycloop menurut berbagai sumber penelitian dan pengamatan secara kasat mata terdapat berbagai potensi, baik potensi flora fauna, hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan seperti keindahan alam, air dan berbagai keunikan lainnya.  Dikawasan ini kita dapat menjumpai berbagai flora khas Papua seperti Pometia piƱata, Instia bijuga, Anisoptera, Dilena, Dracontomelon, Firminia, Maplolobus, Myristia, Callophillum dan Pleiogyum spp serta berbagai jenis flora lainnya yang belum dillakukan penelitian lebih dalam.  Disamping flora kita juga bisa menemukan berbagai macam fauna yang sangat cantik dan menakjubkan seperti berbagai jenis burung, mamalia, reptile, katak, kupu-kupu, ikan air tawar dan ikan air laut.  Secara detail hasil penelitian menunjukan data potensi fauna sebagai berikut : Burung 278 jenis (WWF, 1984), Mamalia 86 jenis (WWF, 1984), Reptil 103 Jenis (65 jenis, WWF, 1984 dan 38 jenis, CI, 1999-2000 termasuk 1 jenis baru), Katak 40 jenis (38 jenis, WWF, 1984 dan 2 jenis baru, CI, 1999-2000), Kupu-kupu 271 jenis (270 jenis, Bruder Henk dan 1 jenis baru, CI, 2000), Ikan air tawar 33 jenis (CI, 2000, termasuk 1 jenis baru) dan Ikan laut 195 jenis (CI, 2000).

Disamping potensi flora dan fauna yang telah disebutkan tadi, di kawasan Pegunungan Cycloop juga menyimpan berbagai potensi jasa lingkungan.  Secara kasat mata jasa lingkungan yang terdapat di kawasan ini seperti obyek daya tari wisata air terjun pos tujuh dan berbagai sumber mata air sebanyak 30 titik sumber air dan 13 titik diantaranya dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memenuhi air komersial di Kabupaten dan Kota Jayapura dengan jumlah intake sebanyak 24 yang tersebar dari Anafre Jayapura sampai Pos Tujuh.

 Dengan perkembangan waktu seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia, Cagar Alam Cycloop mengalami tekanan yang sangat berarti dan sudah mengarah pada menurunnya fungsi Cagar Alam Cycloop sebagai penyeimbang ekosistem.  Indikasi menuruunya daya dukung lingkungan tersebut dapat dicerminkan dengan adanya banjir ketika hujan, menurunnya debit air, longsor dan yang lebih parah lagi yaitu hilangnya berbagai keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Pegunungan Cagar Alam Cycloop.  Berbagai gangguan yang muncul dipermukaan hingga saat ini adalah perambahan kawasan dan pencurian berbagai hasil hutan yang ada didalam dan sekitar Cagar Alam Cycloop.  Modus perambahan kawasan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab antara lain pemukiman tanpa ijin, penebangan kayu swam untuk bahan bangunan dan pembuatan arang, perladangan berpindah, perburuan satwa liar dan anggrek alam, penambangan pasir dan berbagai aktifitas menyimpang lainnya. 

Menurut Kepala Suku Angkasa Bion Tabuni, sebagian besar masyarakat mengetahui bahwa lokasi yang selama ini dijadikan sebagai daerah pemukiman dan berkebun merupakan kawasan Cagar Alam Cycloop.  Lebih lanjut dikatakan bahwa hampir sekitar 150 KK tersebar di daerah Bhayangkara sampai Pasir Dua melakukan usaha pembuatan arang bakar dari bahan baku sumber kayu swam.  Kayu Arang Bakar yang banyak diminati oleh pedagang ikan bakar disekitar Kota Jayapura yaitu jenis arang yang menggunakan bahan bakar kayu swam.  Inilah yang menjadi daya tarik masyarakat mengelola bahan bakar kayu arang dan menurut Bion Tabuni harganya juga cukup baik dan pengerjaannya tidak sulit.  Alat-alat yang digunakan untuk melakukan ekploitasi dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana berupa parang dan kapak serta ada juga yang melakukan dengan cara dibakar.   Masyarakat Adat di Angkasa, melalui Kepala Suku Bion Tabuni, menyadari bahwa apa yang dilakukan sudah melanggar hukum.  Aktifitas penebangan liar ini dapat dihentikan, menurut Kepala Suku Angkasa, perlu ada insentif ekonomi untuk masyarakat dan masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam menjaga kelestarian hutan, dan keinginan lebih lanjut masyarakat menginginkan agar mereka dipekerjakan dalam bidang pemerintahan.  Disamping itu juga masyarakat menginginkan agar usaha-usaha berkebun yang dilakukan oleh masyarakat mendapat perhatian dari pemerintah.  

Menjaga kelestarian dan mengembalikan fungsi fungsi Cagar Alam Cycloop dalam menjaga keseimbangan ekosistem merupakan upaya mutlak dan tidak bisa ditunda lagi.  Upaya-upaya yang dapat  dilakukan baik secara individu dan kolektif adalah melakukan pengelolaan Cagar Alam Cycloop.  Bentuk pengelolaan yang dapat dilakukan meliputi inventarisasi potensi dan penyusunan rencana pengelolaan, pemanfaatan secara lestari, rehabilitasi dan reklamasi serta perlindungan dan konservasi. 

Berbagai aktifitas konkrit yang telah dilakukan oleh jajaran kehutanan di wilayah ini secara garis besar terdapat 3 (tiga) aktifitas besar meliputi pemantapan kawasan, perlindungan dan rehabilitasi.  Upaya pemantapan kawasan yang dilaksanakan adalah rekonstruksi batas dan penanaman pohon batas.  Aktifitas perlindungan yang dilakukan meliputi penyusunan regulasi, penyuluhan dan sosialisasi, upaya represif pengamanan hutan serta pemberdayaan masyarakat dengan aktifitas pengembangan ekonomi produktif bagi masyarakat.  Upaya lain yang dilakukan untuk pemulihan adalah rehabilitasi dalam bentuk penanaman pada daerah yang telah mengalami lahan kritis dan pengembalian ekosistem dengan program restorasi ekosistem serta adopsi pohon. 

Untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan kawasan Pegunungan Cagar Alam Cycloop, menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua, bapak Marthen Kayoi menyampaikan upaya-upaya sebagai berikut : pertama dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dibentuk forum koordinasi penyelamatan CA Cycloop sebagai wadah koordinasi dan sinkronisasi program.  Selanjutnya mengembangkan program-program penyelamatan CA Pegunungan Cycloop, dengan upaya konkrit yang dilakukan yaitu mengurangi laju pertumbuhan masuknya penduduk pendatang di sekitar kawasan CA Cycloop, rekrutmen dan pemberian insentif bagi masyarakat asli setempat untuk menjaga keamanan Kawasan CA. Peg. Cycloop, sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat luas agar tidak menggunakan bahan bakar arang yang berasal dari Kawasan CA. Peg. Cycloop, menggantikannya dengan alternatif bahan bakar lain, misalnya arang tempurung kelapa, atau arang briket yang berasal dari limbah industri perkayuan.


Berbagai program yang telah dirancang dan yang telah dilaksanakan akan berhasil dalam pelaksanaannya sangat ditentukan oleh sinergitas antar berbagai pihak dengan tugas dan tanggung jawab dan tanggung gugat yang jelas.  Sehingga pekerjaan yang sangat mulia ini dapat dikerjakan bersama untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi cagar alam cycloop sebagai penyeimbang ekosistem.  Jangan tunda, karena penundaan yang kita lakukan maka bencana akan datang menghampiri kita.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar